Donat dan Dawet Jadi Bekal Tanggap Bencana: Mahasiswa UBT Praktikkan Ketahanan Pangan Darurat
Medan, 10 Oktober 2025
Guna membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dalam menghadapi situasi krisis, Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Bunda Thamrin (UBT) menggelar lokakarya pembuatan donat dan dawet berbasis bahan lokal. Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Manajemen Bencana dan KLB (Kejadian Luar Biasa) ini diselenggarakan di lingkungan kampus UBT pada Jumat, 10 Oktober 2025, dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Semester III.
Dalam situasi bencana atau KLB, akses terhadap makanan yang bergizi, aman, dan mudah dijangkau seringkali menjadi tantangan besar. Berangkat dari realitas tersebut, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang konsep ketahanan pangan dan gizi darurat dalam situasi bencana; melatih mahasiswa mengolah bahan pangan lokal menjadi produk bergizi dan aman konsumsi; mengaitkan teori manajemen bencana dan KLB dengan praktik nyata melalui kegiatan pembuatan pangan sederhana; menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan dalam pencegahan KLB keracunan makanan. Mahasiswa dilatih untuk mengolah bahan lokal menjadi produk yang tidak hanya lezat, tetapi juga higienis dan memiliki nilai gizi yang memadai.
Lokakarya diawali dengan pemaparan teori oleh dr. Hely Wijaya, M.Kes, selaku dosen mata kuliah Manajemen Bencana dan KLB. Beliau menjelaskan pentingnya peran ketahanan pangan sebagai salah satu pilar utama dalam manajemen bencana, serta risiko KLB akibat keracunan makanan jika tidak diolah dengan benar.
"Ketahanan pangan adalah bagian penting dari kesiapsiagaan bencana. Dengan kreativitas dan pemanfaatan bahan lokal, masyarakat dapat menyiapkan makanan bergizi dan aman bahkan di tengah situasi krisis," ujar dr. Hely, menekankan esensi dari kegiatan ini.
Setelah sesi teori, para mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memulai praktik. Dengan penuh semangat, mereka mulai membuat dua jenis produk: donat kentang yang kaya karbohidrat dan dawet gula merah yang menyegarkan. Proses pembuatan ini tidak hanya menguji kemampuan memasak mereka, tetapi juga melatih kerja sama tim dan penerapan standar higienis.
Setelah seluruh produk selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil olahannya. Diskusi interaktif pun terjadi, di mana para mahasiswa dan dosen mengevaluasi potensi donat dan dawet sebagai makanan darurat. Mereka menganalisis aspek kemudahan produksi, daya tahan, nilai gizi, hingga cara penyajian yang aman saat kondisi bencana.
Kegiatan ini berhasil mengaitkan teori manajemen bencana dengan praktik nyata, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan, dan membekali mahasiswa dengan keterampilan yang sangat relevan. Diharapkan, pengalaman ini akan menjadi bekal berharga bagi para calon sarjana kesehatan masyarakat untuk memberikan dampak positif dan kontribusi nyata dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di masa depan.